Rabu, 09 September 2026

MELAYANI UMMAT DENGAN SEPENUH HATI

 

Oleh Jajang Suryana

Mesjid adalah “rumah Alloh”, baitulloh. Di rumah Alloh, tentu ada adab-adaban yang harus dipenuhi. Adab dimaksud adalah tata-titi perilaku yang harus menjadi ciri utama kemanusiaan manusia sebagai hamba Alloh, ketika berada dalam baitulloh.

Memasuki mesjid, sebagaimana memasuki rumah mahluk, ada tertib perilakunya yang harus dipatuhi agar pemilik rumah bisa menerima tamu secara nyaman. Mendatangi rumah Alloh, tentu tidak bisa disamakan dengan sekadar mendatangi rumah mahluk Alloh. Orang-orang muslim dewasa, in syaa Alloh, husnuzhzhon, tahu tata tertib mendatangi rumah Alloh. Tetapi, sangat disayangkan, masih banyak orang tua yang “pelit” berbagi pengetahuan kebaikannya dengan anak-anaknya. Terbukti, banyak anak-anak yang datang ke mesjid tanpa perilaku adab di mesjid. Ada beberapa anak yang memang datang ke mesjid untuk ikut sholat berjamaah. Mereka melaksanakan sholat secara tertib. Begitu banyak anak-anak yang datang ke mesjid --husnuzhzhon juga-- untuk sholat berjamaah. Tetapi, ketika mereka berkumpul dengan anak-anak yang lain, niat sholat berjamaah berubah. Mereka mengobrol dengan sebayanya, bahkan ada yang bermain memanfaatkan kenyamanan ruangan mesjid yang luas. Kasus yang mengherankan, anak-anak setingkat SMA/MA, ketika sedang melaksanakan sholat, masih ada yang mengobrol dengan temannya sejak takbirotul ihrom hingga menjelang salam.

Ada teladan yang baik sebagai bahan perbandingan apa yang dilakukan para pemakmur Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi. Para pemuda pengelola Mesjid At-Tin Kota Sukabumi itu, menyiapkan waktu khusus sekaligus ruang khusus untuk membina anak-anak yang datang ke mesjid. Anak-anak dikumpulkan di ruang khusus untuk mendapatkan informasi yang benar tentang adab di mesjid, termasuk bagaimana melaksanakan sholat berjamaah secara benar (:syar’i).

Ada hal lain yang seharusnya menjadi daya tarik mesjid sehingga jama’ah bisa betah, rindu, dan nyaman berada di mesjid. Memang, secara naluriah, manusia suka dengan segala sesuatu yang “gratis”. Di mesjid ini, ada layanan khusus yang pasti menyenangkan jamaah berupa makan siang dan kopi ala barista sehat yang gratis, dan layanan yang didukung oleh banyak relawan dan dermawan yang berlomba menyediakan diri untuk bershodaqoh.

Layanan umat harus dengan hati yang tulus. Ketulusan hati memiliki gelombang dan frekuensi tertentu. Gelombang tersebut bisa merambat mencari pemilik frekuensi keikhlasan yang sama, yang memiliki ketulusan yang sama. Atau, lebih mudah berterima dengan seseorang yang memiliki frekuensi yang sama. Sekumpulan orang yang berbeda keinginan dan tujuan akan sulit “disatukan” dalam satu pendapat yang sama. Tetapi, ketika frekuensi tertentu telah sama, misal dalam peristiwa pengaminan do’a oleh 40 orang jama’ah, itulah bukti kesamaan frekuensi, kesamaan tujuan, kesamaan keinginan, yang akan memepermudah kabul do’a oleh Alloh.

Kondisi hati (qolbu) akan terpancar dalam cermin yang tak pernah bohong, tak bisa dibohongi, wajah seseorang. Kondisi qolbu juga akan tampak dalam pola perilaku seseorang. Ketika kondisi hati seseorang sedang nyaman, bahagia, atau penuh harapan, maka dua di antara gerbang informasi pribadi seseorang yang visual itu sangat kentara, sangat mudah dilihat orang lain. Seorang anggota takmir mesjid yang bersih hatinya, akan memancarkan frekuensi kebersihan hatinya dalam bentuk keramahan melayani umat yang datang ke mesjid. Keramahan itu menjadi salah satu modal penarik minat jamaah untuk datang kembali ke mesjid. Bahkan, dalam situasi zaman digital ini, informasi-informasi yang menunjukkan kelebihan itu, bakal menjadi informasi umum yang tersebar di medsos juga. Hal itu bisa diperkirakan akan menjadi daya tarik yang menimbulkan rasa pensaran bagi calon jamaah baru. Bahkan, lebih jauh daripada hal tersebut, donasi-donasi pun akan menjadi nilai tambah yang diberikan oleh para jamaah.

Sebut saja Mesjid Jogokariyan yang telah populer melalui medsos karena banyak kebaikan yang pantas diburu umat. Umat ingin tahu, ingin merasakan kenyamanan yang pernah diceritakan oleh jamaah lain. Keramahan layanan dan kenyamanan lingkungan mesjid menjadi salah satu hal yang menarik sebagai bahan bandingan bagi jamaah. Sekalipun pembangunan mesjid, tentu, bukan untuk objek wisata, tetapi pada masa kini, begitu banyak orang yang sengaja berwisata religi mendatangi mesjid-mesjid yang sedang viral sebagai mesjid dengan banyak berita baik.

Satu lingkungan mesjid yang kerap menjadi buruan umat adalah mesjid An-Noor, Cipayung, Ciputat, Tangerang. Sekalipun belum seviral mesjid Jogokariyan dan Mesjid At-Tin (Mesjid Sejuta Pemuda), Mesjid An-Noor telah banyak mengundang minat jamaah karena keramahan layanan para petugas mesjid. Di samping hal itu, kenyamanan ruang ibadat sekaligus kekhusukan suasana ibadat, telah menjadi daya tarik khusus banyak jamaah. Jamaah juga merasa sangat nyaman dengan ketersediaan ruang publik yang bisa digunakan sebagai tempat parkir kendaraan yang aman. Di lingkungan kota besar masalah keamanan penitipan kendaraan juga kerap menjadi pertimbangan khusus bagai para jamaah yang jauh-jauh datang menggunakan kendaraan pribadi. Di lingkungan Mesjid An-Noor ada sejenis kartu langganan berbayar yang menjadi penanda dan sekaligus kartu masuk ke ruang parkir kendaraan di sekitar mesjid. Untuk mendapatkan bukaan pintu ruang parkir, saat datang ataupun pulang, para penitip kendaraan tinggal menggunakan deteksi pembayaran tol yang disediakan di pintu masuk sekaligus pintu keluar kendaraan. Layanan sejenis, di lingkungan kota besar yang serba praktis menjadi daya tarik khusus bagi banyak orang. Bahkan, dalam kondisi tertentu, lingkungan mesjid telah menjadi ruang singgah yang bermanfaat secara fisik, terutama psikis jamaah. In syaa Alloh, Tak ada yang sia-sia dari semua kebaikan yang ditebar! Begitulah, segala yang telah diniagakan dengan Alloh akan tetap mendatagkan keuntungan yang berlipat ganda, sesuai dengan janji Alloh.

Pada masanya, di kota Bandung ada sejumlah mesjid yang kerap menjadi buruan umat, terutama pada saat Sholat Jum’at. Kenyamanan isi khutbah Jum’at adalah salah satu pertimbangan khusus bagi para “penikmat materi khutbah” yang fanatik. Di Mesjid Istiqomah, Jalan Citarum, Bandung, misalnya, sekalipun masyarakat sekitar mesjid bisa dikatakan sedikit jumlahnya, tetapi mesjid selalu penuh sebelum pelaksanaan Sholat Jum’at berlangsung. Jamaah kebanyakan pekerja kantoran yang datang lebih awal untuk i’tikaf di mesjid menunggu saat dilaksanakan sholat berjamaah. Yang sangat menarik, ketika khotib mulai naik mimbar, semua jamaah “terjaga” untuk mendengarkan dan menyimak isi khutbah. Tak ada yang berleha-leha ngadem di ruang mesjid yang nyaman sekalipun tanpa AC, kemudian tertidur. Mesjid lainnya yang kerap menjadi buruan para jamaah adalah Mesjid Alfurqon, UPI Bandung dan Mesjid Salman ITB Bandung. Ketertarikan jamaah untuk memburu kenyamanan sholat, yang dominan, tentu masalah isi khutbah dan kekhusukan pelaksanaan sholat!

Hal lain yang juga menarik bagi para jamaah adalah ketersediaan berbagai kuliner yang lengkap di sekitar mesjid. Para pekerja kantor banyak memanfaatkan kesempatan “istirahat Sholat Jum’at” sebagai waktu makan siang (makan nasi, pasti). Di samping hal itu, ada sejumlah penyedia penjualan buku-buku yang sangat menarik, layaknya bursa buku. Termasuk penjualan buku-buku langka maupun buku bekas baca. Pada saat tertentu, ada juga bursa barang unik murah yang ditawarkan oleh para penjual, misal benda-benda elektronik yang praktis.

Makan dan kopi gratis sudah menjamur sebagai layanan untuk jamaah di mesjid-mesjid tertentu. Banyak pengurus mesjid menginginkan model pelayanan jamaah yang sama dengan layanan yang telah berhasil dilakukan oleh pengurus mesjid lainnya. Keinginan tersebut berkelindan dengan kondisi dana yang harus digunakan untuk pelaksanaannya. Shodaqoh jariah itu bisa lebih luas pola, jenis, dan jangkauannya. Shodaqoh bangunan, bagian bangunan, hingga pengurus mesjid “segan” untuk mengubah shodaqoh jamaah dalam bentuk bagian bangunan tersebut, tampaknya telah menghadirkan “keterbatasan” gerak pengurus mesjid ketika akan mengambangkan bangunan mesjid. Ada pandangan yang “mungkin keliru”, sehingga menghambat kesempatan bagi orang lain yang ingin bershodaqoh yang sama, ketika ada pernyataan “Bagian bagunan ini shodaqohnya Pak Anu. Jadi, tak mungkin diganti, diubah, apalagi diruntuhkan!” Kok, seperti shodaqoh egois ya!

Alloh Mahatahu tentang segala perilaku manusia, yang tampak, sengaja ditampakkan, maupun yang tersembunyi, atau sengaja disembunyikan. Segala perbuatan baik, tentu, ada dalam bigdata milik Alloh. Tak akan ada yang keliru dalam pencatatan. Tak ada yang akan terlewat dalam pendokumentasian track-record dalam perhitungan pahala dari Alloh. Ada pernyataan “selama objek shodaqoh itu memberi manfaat, selama itu juga pahala shodaqohnya akan mengalir kepada yang bershodaqoh”. Kemudian, ketika objek shodaqoh “terpaksa harus diganti, ditata ulang keberadaannya”, apakah nilai pahala shodaqoh tersebut akan terputus?

Ada mesjid yang dirindui jamaah karena isi cermah, khutbah, maupun pengajiannya yang dianggap sangat menyamankan hati jamaah. Di Bandung, Jawa Barat, ada Mesjid Istiqomah di jalan Citarum Bandung; ada Mesjid Al-Furqon di kampus UPI Bandung; ada juga Mesjid Salman di lingkungan kampus ITB Bandung. Tiga buah mesjid ini adalah contoh mesjid yang kerap menjadi mesjid yang dirindui oleh jamaah karena kenyamanan isi bahasan keilmuannya. Bahkan, banyak jamaah muda, calon penerus pencinta mesjid, yang sangat biasa dan nyaman juga belajar di lingkungsn tiga mesjid tadi. Tentu, kenyamanan dimaksud berkelindan juga dengan fasilitas yang disediakan untuk beragam kegiatan serta layanan yang dibarengi dengan keikhlasan para petugas ketakmirannya. 

Kegiatan utama ibadat dalam mesjid terpisah ruangannya dari ruang kegiatan lainnya. Kegiatan yang biasa melibatkan banyak jamaah di luar ibadat mahdhoh, tersedia misalnya sebagai sarana kegiatan lomba untuk para remaja, untuk pelatihan-pelatihan, untuk acara pernikahan, dan acara kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Bahkan yang sangat menarik adalah kegiatan sejenis bazaar dan bursa buku, benda elektronik, alat rumah tangga, terutama makanan khas buruan jamaan setelah sholat. Para penjual, tentu tidak berkaitan langsung dengan takmir mesjid, tetapi takmir menyediakan tempat bebas akses untuk kegiatan berjualan para pelaku UMKM. Mesjid yang ideal adalah mesjid yang memiliki ruang publik bebas akses yang nyaman. Kesulitan mendapatkan ruang parkir di sekitar mesjid, misalnya, menjadi salah satu penghalang yang akan mengurangi minat untuk kembali mendatanginya. Keragaman hal-hal yang “menyenangkan publik” juga menjadi daya tarik khusus untuk mendatangi mesjid. Bukankah Alloh juga menempatkan janji tertentu untuk “para pemula”, yang bisa menarik mereka untuk melakukan beragam ibadat secara sungguh-sungguh. “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur`an) maka baginya satu pahala kebaikan, dan satu pahala kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa 'alif lām mīm' itu satu huruf, akan tetapi, alif satu huruf, lām satu huruf, dan mīm satu huruf.”  

[Hasan] - [HR. Tirmidzi] - [Sunan At-Tirmidżī - 2910]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar