Sabtu, 10 Januari 2026

 BERHARAP SETIAP TAHUN ADA GENERASI LENGKAP

Jajang Suryana

 

Berada di lingkungan mesjid terasa "hangat" ketika ada pengajian umum. Bisa disaksikan pada saat pengajian umum, semua "generasi" pemakmur mesjid bisa hadir. Ada anak-anak yang masih belum sekolah. Mereka ramai berteriak-teriak, bahkan ada yang menangis di pangkuan ibunya. Ada juga anak-anak yang telah mulai sekolah di PAUD dan TK. Mereka berkumpul dengan teman-teman seusianya. Anak-anak usia sekolah dasar, mereka lebih "ramai" karena sering berada di ruangan mesjid, ketika pelaksanaan Sholat Fardhu Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Bahkan juga Shubuh. Anak-anak remaja yang sudah bersekolah di tingkat SMP dan SMA, mereka juga berkumpul dengan teman-teman sebayanya.

Setiap periode tertentu, "pemakmur" mesjid selalu fluktuatif. Terutama anak-anak remaja yang mulai kuliah. Remaja golongan ini lebih rentan "habis" karena mereka harus melanjutkan sekolah. Ada yang di pesantren maupun kuliah di perguruan tinggi tertentu di luar kota, bahkan di luar provinsi. Mereka hanya sempat berkumpul kembali ketika ada masa liburan. Yang di pesantren, ternyata punya liburan yang "tampak lebih banyak" karena selain menjelang akhir Romadhon, juga pada masa Robiul Awwal, masa peringatan maulid Nabi Muhammad saw, mereka bisa pulang kampung karena liburan.

 

Memelihara Kemakmuran Mesjid

Ada sisi menarik ketika mesjid "kehilangan" remaja pemakmur mesjid. Pada periode tertentu, ketika anak-anak yang seusia jumlahnya banyak, maka mesjid bisa terasa lebih hangat. Tetapi, pada periode lainnya, ketika anak-anak seusia "harus belajar di luar, kuliah, atau mesantren" terasa sekali kehangatan mesjid menjadi berkurang. Jika remaja seusia SMA banyak jumlahnya, kehangatan kegiatan mesjid bisa tampak terutama dalam kegiatan pengajian remaja. Mungkin agak beruntung jika sebuah mesjid menjadi bagian pesantren atau sekolah. Sekalipun di temat lainnya ada mesjid dengan berbagai kegiatannya, di mesjid pesantren atau mesjid sekolah, kegiatan remaja bisa lebih tertata karena ada ikatan tertentu. Hal itu sangat berbeda dengan mesjid yang tidak memiliki pesantren ataupun sekolah.

Menghidupkan suasana mesjid dengan pengajian remaja dirasakan sangat sulit jika jumlah remaja yang akan menjadi pemakmur mesjid jumlahnya selalu berkurang pada setiap periode. Bahkan, pada periode tertentu, mesjid seakan tidak memiliki remaja sama sekali. Mungkin, kerja sama antara mesjid dengan guru mata pelajaran Agama Islam di sekolah perlu dibangun terus-menerus. Guru Agama Islam di sekolah umum, misalnya, bisa menugasi anak-anak bimbingan mereka untuk "mengumpulkan tugas berupa laporan materi pengajian" di tempat tertentu. Dengan cara demikian, ada pola ikatan "keharusan" hadir di mesjid bagi para remaja yang mendapatkan tugas tersebut. Sayangnya, mata pelajaran Agama di sekolah umum, hanya sekali saja muncul, entah pada kelas berapa dan semester berapa. Beberapa hal yang juga menjadi keluhan guru mengaji di mesjid adalah "sibuknya siswa remaja" dengan begitu banyak tugas sekolah.

Jika kemakmuran mesjid hanya dihidupkan oleh para orang tua semata, alih tugas antargenerasi agak sulit dilakukan. Remaja yang belajar di pesantren, biasanya dilibatkan dalam proses alih tugas tadi. Tetapi, mereka hanya bisa "hadir" pada saat liburan. Sementara itu, tugas harian kegiatan di mesjid, seperti sholat fardhu berjamaah, memerlukan tenaga imam yang terus-menerus siap di tempat. Seorang pengurus mesjid (merbot), kehabisan tenaga jika harus menangani terlalu banyak kegiatan: membersihkan dan menyiapkan mesjid serta lingkungannya; menjadi modin; menyiapkan perangkat acara pengajian tertentu; apalagi harus juga menjadi imam sholat. Merbot yang ideal memang yang bisa siap mengerjakan banyak kegiatan: memelihara mesjid, menyiapkan semua kebutuhan pelaksanaan sholat berjamaah, mengajar mengaji, bahkan jika mungkin menjadi khotib, imam sholat, dan penceramah.

Penjadwalan kegiatan lengkap dengan petugas-petugasnya, misalnya petugas imam sholat fardhu, kerap terbentur halangan-halangan tertentu. Ketika ada orang (di luar yang telah dijadwalkan oleh takmir) yang "nyelonong" menjadi imam sholat fardhu, kerap mengundang omongan tertentu. Apalagi jika "selonong imam" tadi adalah orang luar ketakmiran. Peran pengurus takmir, sesuai bidang SoP-nya, seharusnya terus menjadi perhatian khusus para subpengurus ketakmiran. Lebih khusus lagi menjadi perhatian terus-menerus para ketua takmir!  

Semoga kemakmuran mesjid tetap menjadi penyemangat bagi kegiatan umat. Sehingga, umat merasakan "nyaman beribadat dan aman bermu'amalat" di lingkungan mesjid!

 

Allohu a'lam!