BERHARAP SETIAP TAHUN ADA GENERASI LENGKAP
Jajang Suryana
Berada
di lingkungan mesjid terasa "hangat" ketika ada pengajian umum. Bisa
disaksikan pada saat pengajian umum, semua "generasi" pemakmur mesjid
bisa hadir. Ada anak-anak yang masih belum sekolah. Mereka ramai
berteriak-teriak, bahkan ada yang menangis di pangkuan ibunya. Ada juga
anak-anak yang telah mulai sekolah di PAUD dan TK. Mereka berkumpul dengan
teman-teman seusianya. Anak-anak usia sekolah dasar, mereka lebih
"ramai" karena sering berada di ruangan mesjid, ketika pelaksanaan
Sholat Fardhu Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Bahkan juga Shubuh. Anak-anak
remaja yang sudah bersekolah di tingkat SMP dan SMA, mereka juga berkumpul
dengan teman-teman sebayanya.
Setiap
periode tertentu, "pemakmur" mesjid selalu fluktuatif. Terutama
anak-anak remaja yang mulai kuliah. Remaja golongan ini lebih rentan
"habis" karena mereka harus melanjutkan sekolah. Ada yang di
pesantren maupun kuliah di perguruan tinggi tertentu di luar kota, bahkan di
luar provinsi. Mereka hanya sempat berkumpul kembali ketika ada masa liburan.
Yang di pesantren, ternyata punya liburan yang "tampak lebih banyak"
karena selain menjelang akhir Romadhon, juga pada masa Robiul Awwal, masa
peringatan maulid Nabi Muhammad saw, mereka bisa pulang kampung karena liburan.
Memelihara
Kemakmuran Mesjid
Ada
sisi menarik ketika mesjid "kehilangan" remaja pemakmur mesjid. Pada
periode tertentu, ketika anak-anak yang seusia jumlahnya banyak, maka mesjid
bisa terasa lebih hangat. Tetapi, pada periode lainnya, ketika anak-anak seusia
"harus belajar di luar, kuliah, atau mesantren" terasa sekali
kehangatan mesjid menjadi berkurang. Jika remaja seusia SMA banyak jumlahnya,
kehangatan kegiatan mesjid bisa tampak terutama dalam kegiatan pengajian
remaja. Mungkin agak beruntung jika sebuah mesjid menjadi bagian pesantren atau
sekolah. Sekalipun di temat lainnya ada mesjid dengan berbagai kegiatannya, di
mesjid pesantren atau mesjid sekolah, kegiatan remaja bisa lebih tertata karena
ada ikatan tertentu. Hal itu sangat berbeda dengan mesjid yang tidak memiliki
pesantren ataupun sekolah.
Menghidupkan
suasana mesjid dengan pengajian remaja dirasakan sangat sulit jika jumlah
remaja yang akan menjadi pemakmur mesjid jumlahnya selalu berkurang pada setiap
periode. Bahkan, pada periode tertentu, mesjid seakan tidak memiliki remaja
sama sekali. Mungkin, kerja sama antara mesjid dengan guru mata pelajaran Agama
Islam di sekolah perlu dibangun terus-menerus. Guru Agama Islam di sekolah
umum, misalnya, bisa menugasi anak-anak bimbingan mereka untuk
"mengumpulkan tugas berupa laporan materi pengajian" di tempat
tertentu. Dengan cara demikian, ada pola ikatan "keharusan" hadir di
mesjid bagi para remaja yang mendapatkan tugas tersebut. Sayangnya, mata
pelajaran Agama di sekolah umum, hanya sekali saja muncul, entah pada kelas
berapa dan semester berapa. Beberapa hal yang juga menjadi keluhan guru mengaji
di mesjid adalah "sibuknya siswa remaja" dengan begitu banyak tugas
sekolah.
Jika
kemakmuran mesjid hanya dihidupkan oleh para orang tua semata, alih tugas
antargenerasi agak sulit dilakukan. Remaja yang belajar di pesantren, biasanya
dilibatkan dalam proses alih tugas tadi. Tetapi, mereka hanya bisa
"hadir" pada saat liburan. Sementara itu, tugas harian kegiatan di
mesjid, seperti sholat fardhu berjamaah, memerlukan tenaga imam yang
terus-menerus siap di tempat. Seorang pengurus mesjid (merbot), kehabisan
tenaga jika harus menangani terlalu banyak kegiatan: membersihkan dan
menyiapkan mesjid serta lingkungannya; menjadi modin; menyiapkan perangkat
acara pengajian tertentu; apalagi harus juga menjadi imam sholat. Merbot yang
ideal memang yang bisa siap mengerjakan banyak kegiatan: memelihara mesjid,
menyiapkan semua kebutuhan pelaksanaan sholat berjamaah, mengajar mengaji,
bahkan jika mungkin menjadi khotib, imam sholat, dan penceramah.
Penjadwalan
kegiatan lengkap dengan petugas-petugasnya, misalnya petugas imam sholat
fardhu, kerap terbentur halangan-halangan tertentu. Ketika ada orang (di luar
yang telah dijadwalkan oleh takmir) yang "nyelonong" menjadi imam
sholat fardhu, kerap mengundang omongan tertentu. Apalagi jika "selonong
imam" tadi adalah orang luar ketakmiran. Peran pengurus takmir, sesuai
bidang SoP-nya, seharusnya terus menjadi perhatian khusus para subpengurus
ketakmiran. Lebih khusus lagi menjadi perhatian terus-menerus para ketua
takmir!
Semoga
kemakmuran mesjid tetap menjadi penyemangat bagi kegiatan umat. Sehingga, umat
merasakan "nyaman beribadat dan aman bermu'amalat" di
lingkungan mesjid!
Allohu
a'lam!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar