Kamis, 15 Januari 2026

 Niyat Dalam Kata-Kata?

Jajang Suryana


Niyat, bagi muslim/muslimat, adalah "kendaraan untuk mencapai tujuan". "Sesungguhnya semua perbuatan bergantung kepada niyatnya" (iai hadits Nabi saw).

Tampaknya, ada sesuatu yang agak berbeda antara perbuatan berupa kegiatan (apapun bentuknya) dengan hal khusus yang terkait dengan perbuatan berupa kata-kata, perkataan, pernyataan, lebih khusus terkait bacaan ayat Al-Quran. 

Salah satu kasus bacaan ayat-ayat Al-Quran yang pasti banyak ditemukan, terutama pada bulan Romadhon, adalah bacaan surat Al-Qadr.

Surat Al-Qadar (biasa dibaca al-qadr, tanpa huruf a yang ketiga) adalah satu surat yang kerap dibaca ketika sholat Tarawih. Surat dimaksud lebih sering dibaca pada malam-malam Qadr (lailatul qadr). Perhatikan bacaan imam pada saat membaca surat tersebut. Terutama ketika para imam membaca akhir setiap ayat pada surat Al-Qadr yang khas. Yaitu bunyi khas pada sejumlah perhentian bacaan ayat sebagai berikut.


Terjemahan Kemenag 2019

1.  Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar.

2.  Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu?

3.  Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan.

4.  Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.

5.  Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.



Perhentian bacaan pertama pada akhir ayat pertama. Kata al-qadr (dalam kotak) kerap dibaca al-qadr tanpa bunyi huruf ra yang ada pada akhir kata al-qadr. Bunyi kata yang terbaca, cenderung menjadi al-qad. Tentu, jika hilang bacaan satu huruf dari kata tersebut, arti kata pasti berubah.

Begitupun pada penggalan bacaan lanjutannya. Kata yang sama, al-qadr, dibaca dengan hilangnya bunyi huruf ra di akhir pengucapan kata, menjadi al-qad


Membaca kata syahr di akhir pembacaan min alfi syahr, kerap mengalami penghilangan huruf akhir ra yang sama dengan dua potongan bacaan akhir di atas. Kara syahr akhirnya dibaca syah, tanpa bunyi huruf ra mati di ujungnya.


 Kasus yang sama ditemukan pada pembacaan kata amr. Kata tersebut cenderung dibaca am tanpa bunyi huruf ra mati.


Kasus yang sama juga ditemukan pada pembacaan kata al-fajr. Kata ini kerap dibaca al-faj saja tanpa bunyi huruf ra di akhir katanya.

Ada yang beralasan, secara hukum tajwid, pembacaan kata dimaksud, cukup tanpa harus membunyikan huruf ra mati yang ada di akhir kata. Tetapi, yang pasti pembunyian ra mati tersebut mesti tetap ada jejak suaranya berupa bunyi rrr, sekalipun samar. Jika betul-betul hilang tanpa jejak bunyi rrr sama sekali, berarti menghilangkan bunyi huruf tersebut. Menghilangkan bunyi satu huruf akan mengakibatkan perubahan arti kata yang dibunyikan.

 “Aku mau pergi ke Bandun…” berbeda dengan kalimat “Aku mau pergi ke Bandung”. Sangat berbeda. Begitupun dengan contoh berikut. “Dia datang kemari…” padahal yang dimaksud “Dia datang kemarin”. Hanya satu huruf yang hilang, satu kata berubah makna. Jika kata-kata biasa, kata-kata dialog sehari-hari yang duniawi, efeknya tak terlalu banyak. Tetapi, jika kata-kata tersebut adalah kata-kata duniawi sekaligus ukhrowi, misal bacaan ayat al-Quran, niyat, doa, dan sejenisnya, tentu efeknya berbeda. Apalagi jika yang mengucapkan adalah seorang imam sholat, yang (disebutkan) menanggung bacaan makmum.  

Ada yang berkilah, ketika membaca ayat Al-Quran --seperti dalam kasus yang dibahas di muka, kemudian tidak lengkap bacaan hurufnya, yang penting niyatnya sudah demikian, sudah seperti yang tertera dalam tulisan ayatnya, sekalipun dalam pengucapannya ada yang hilang. Tentu tak bisa demikian alasannya. Niyat tidak menjadi persyaratan sahnya sebuah pernyataan.   

Alloohu a'lam

(Bersambug)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar