Jajang Suryana
Ada harapan yang umum yang bisa merebak terkait dengan cara baca ayat Al-Quran oleh para imam. Imam bisa menjadi contoh yang baik untuk ditiru oleh makmum, terutama makmum anak-anak. Anak-anak biasa cepat meniru apa yang dikerjakan oleh orang-orang dewasa. Sebagaimana kita semua, orang dewasa, dulu sangat pandai meniru apa yang diajarkan oleh para orang tua dan Tuan Guru, Ustadz, Mu’allim, Abah, dan sejenisnya. Mereka adalah guru ngaji yang pertama untuk anak-anak. Merekalah yang membangun cara, pola, adab, keharusan, dan berbagai teladan yang kemudian menjadi bahan cetak pada otak anak-anak. Seperti disebutkan di dalam kalimat hikmah bahwa “mendidik (: belajar) pada masa kecil seperti memahat di atas permukaan batu”. Pasti hal itu sangat susah, harus hati-hati, harus telaten, harus oleh ahlinya.
Bukti tentang kalimat hikmah tersebut sangat nyata. Kini, para orang tua, khusus kita soroti dalam keterampilan mengaji (membaca Al-Quran), sangat erat terkait dengan hasil pembelajaran pada masa kecil. Ketika orang tua dulu mengajari cara baca yang baik dan benar, kebaikan dan kebenaran bacaan tadi akan terus mengemuka dalam pola baca orang-orang tua kini. Kebaikan dan kebenaran baca tadi tertera seperti hasil pahatan, susah diubah, sangat lekat dalam ingatan. Di samping hal itu, ada kecenderungan hasil pembelajaran di tempat tertentu yang kental dengan pola baca tertentu, pola tadi kentara sekali menunjukkan jejak produk pembelajaran komunitas tertentu. Pola itu, berupa pola pengucapan kalimat tertentu, bunyi huruf tertentu, maupun cara baca ayat-ayat pada surat tertentu. Kawasan lingkungan yang lebih luas pun telah menera pola tertentu dan menjadi penunjuk kawasan tertentu. Misalnya, orang-orang Suku Sunda, dikenal secara umum, sulit melafalkan huruf F, Sy, Z, dan beberapa yang lainnya, secara benar. Sehingga muncul seloroh “Orang Sunda tak bisa mengucapkan hurup F. Ah, itu mah pitnah”.
Kembali ke ruang ngaji. Jika sejak kecil anak-anak mendapatkan pola baca yang keliru, cara baca yang keliru tadi akan berlanjut hingga mereka dewasa. Bahkan, ketika ditahsin, dilatih cara baca yang benar, cara baca lama tetap melekat memola cara baca yang keliru. Keluhan seorang Ustadz Tahsin, ustadz pengajar Tahsinul Quran, tentang hal itu sebagai berikut: “Ah susah diajak berubah”. Dan, program sejenis, hanya diikuti segelintir orang saja. Umur kegiatannya pun tak pernah bisa lama. Banyak kekeliruan cara baca ayat Al-Quran karena efek hafalan tanpa setoran. Jika kekeliruan baca diulang dan diulang sehingga hafal, kekeliruan tersebutlah yang terus menjadi pola bacaan yang “benar” (menurut mereka).
Salah satu jalan keluar dari ketidakefektivan program tahsin, adalah kembali membuka Juz ‘Amma. Secara sendiri-sendiri, setiap individu bisa memperbaiki bacaan dengan cara memeriksa ulang bacaan, minimal melalui memeriksa ulang isi Juz ‘Amma. Masalahnya, dalam program tahsin, yang meluruskan itu adalah orang lain. Mungkin hal itu yang menyebabkan orang-orang sungkan karena “ketahuan bacaannya banyak yang keliru”.
Ayo kita buka lagi Juz ‘Amma. Mengapa Juz
‘Amma? Karena, bahan bacaan imam lebih banyak dari isi Juz ‘Amma!
Alloohu a’lam.
(Sambungan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar