Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Mei 2017

TARAWIH MALAM KEDUA

Oleh Jajang Suryana



Malam Minggu, 27 Mei 2017 ini cukup cerah. Berbeda dengan malam awal Ramadhan kemarin yang diwarnai oleh hujan yang cukup deras. Malam kedua Ramadhan di sekitar Mesjid Al-‘Ashri tampak ramai. Sepeda motor yang terparkir di sekitar mesjid cukup banyak. Artinya, jamaah shalat Isya dan Tarawih kali ini jumlahnya banyak, seperti pada malam kesatu. Alhamdulillah!



Pada malam kedua ini, imam dan penceramah adalah Drs. H.M. Hidayat Abbas, wakil ketua MUI Kabupaten Buleleng. Tema ceramah terkait dengan Shaum dan Pengendalian Diri. Inti dari penyampaian ceramahnya terkait dengan beberapa hal:



1. Pengertian shaum secara lughawi adalah al-imsaak, menahan. Secara syar’i, arti al-imsaak adalah menahan diri dari makan, minum, hubungan suami-isteri, dan lain sebagainya yang bisa membatalkan shaum secara syara, selama siang hari waktu shaum. Terkait juga di dalamnya adalah menahan diri dari perkataan-perkataan yang sia-sia dan yang mengundang pertengkaran serta semua perkataan yang diharamkan dan dimakruhkan (sari dari hadits riwayat Bukhari dan Abu Dawud, sumber Fiqh Sunnah).

2. Ibadat shaum adalah pekerjaan khusus, berbeda dengan pekerjaan ibadat lainnya. Oleh karena itu, Allah telah menetapkan terkait dengan ibadat shaum bahwa “Ibadat Shaum adalah untuk-Ku, Akulah yang akan menetapkan balasannya secara khusus” (Ashshiyaamu Lii, wa Ana ajzii bihi). Intinya, shaum adalah ibadat mahluk yang paling disukai oleh Allah (Khalik). Dan tentang kekhususan ibadat shaum adalah urusan riyaa. Dalam pelaksanaan ibadat shaum, seseorang tidak mungkin menampakkan sifat riyaa seperti dalam ibadat shalat, zakat, maupun hajji, karena hanya shaimin dan Allah-lah yang tahu keberadaan ibadat shaum seseorang yang sebenarnya.

3. Shaum berkaitan dengan kualitas hati (qalbu, mudhghah). Shaum adalah ibadat sirriyyah, ibadat yang sangat pribadi, ibadat yang bertalian dengan kondisi hati. Oleh karena itu ibadat shaum sangat bergantung kepada kualitas hati. Sementara itu, dalam hadits disebutkan, “jika kondisi hati baik maka baiklah seluruh tubuh seseorang, jika kondisi hati buruk (rusak-fungsi) maka buruklah seluruh komdisi tubuh seseorang”.   




Suasana shalat berjamaah Isya, tarawih, dan Witir malam kedua di Mesjid Al-‘Ashri, agak berbeda dengan suasana pada malam pertama. Suasana shalat berjamaah malam pertama terasa lebih tenang, hening, tanpa batuk, tanpa obrolan dan teriakan anak-anak. Suasana malam kedua terasa ada perubahan, pada saat shalat banyak terdengar suara batuk dan obrolan anak-anak. Mudah-mudahan hal itu bukan perubahan yang akan meningkat, semakin riuh oleh suara anak-anak yang sedang belajar ibadat shalat. Fungsi orang tua yang seharusnya menjadi pembimbing anak-anak, yang menempatkan anak-anak di sisi tempat shalatnya, belum bisa diprogramkan secara efektif. Orang tua lebih mementingkan khusyuknya sendiri sehingga anak-anak dibiarkan jauh dari tempat sujudnya. Padahal, anak-anak yang mau datang ke mesjid adalah modal dasar kesukaan anak muda kepada mesjid. Jika anak-anak sering menyebabkan keributan, hal itu mesti menjadi perhatian khusus semua orang tua yang memiliki anak-anak yang membawa anaknya ke mesjid. Orang tua seharusnya betul-betul membawa anak-anak ke mesjid dalam rangka mendidik perilaku santun di mesjid.    


Seusai shalat Tarawih, kegiatan Tadarrus Al-Quran menjadi program rutin yang dilakukan oleh jamaah: bapak-bapak, ibu-ibu, maupun remaja. Kegiatan Tadarrus adalah upaya membudayakan membaca Al-Quran secara rutin. Mudah-mudahan bukan sekadar mengejar jumlah khatam dan jumlah ayat yang telah dibaca, tetapi juga bisa memanfaatkan isi Al-Quran sebagai hudan, petunjuk perilaku yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ummat Islam!  



*Foto Jajang Suryana, ASUS Zenfone 3 Laser

Senin, 22 Mei 2017

PERPISAHAN PENASIHAT MESJID AL-'ASHRI SINGARAJA

Oleh Jajang Suryana


Drs. H. Sutisna Abdullah, M.A. mendapat tempat tugas baru di Kabupaten Jembrana Bali. KASI BIMAS ISLAM yang telah cukup lama bertugas di Kabupaten Buleleng ini  menjadi tim penasihat Ta'mir Mesjid Al-'Ashri, Perumahan Satelit Asri Singaraja-Bali. Pak Haji Tisna, demikian panggilannya, mendapat tugas yang sama di tempat tugas yang baru, yaitu sebagai KASI BIMAS ISLAM. Rotasi, istilah yang digunakan untuk perpindahan, dilakukan bagi para pejabat di Kementerian Agama, secara acak. Para pejabat harus siap mendapat tugas rotasi ke tempat manapu yang ada di lingkungan yang telah ditetapkan.

Kepindahan salah satu penasihat ta'mir berarti satu kehilangan sumber inspirasi bagi ta'mir. Ada beberapa bagian penting yang biasa menjadi pintu inspirasi yang "hilang" sejalan kepindahannya: sebagai khatib, penceramah tarawih, dan penceramah dalam pengajian.   

Ta'mir Mesjid Al-'Ashri menempatkan Pak Haji Tisna sebagai pencermahan dalam pengajian rutin Fardhu Kifayah menjelang Ramadhan, sekaligus sebagai acara perpisahan dengannya. Materi ceramah terkait dengan persiapan menyambut dan menjalani bulan Ramadhan. 




Sebagai penutup acara pengajian, Ketua Ta'mir Mesjid Al-'Ashri, H.M. Hamdani Sanusi, S.Ag. bersama Ketua Pengjian Fardhu Kifayah Mesjid Al-'Ashri, H. Tatang Harsono, S.Ag., M.HI., menyerahkan cinderamata sebagai kenang-kenangan dan sekaligus ucapan terima kasih kepada Pak Haji Tisna.


*Foto oleh Jajang Suryana, menggunakan kamera smartphone Sony Xperia M5 Dual